MAKASSAR, KORAN HARIAN 55 — Ketua Umum Perserikatan Journalist Siber Indonesia (Perjosi), Salim Djati Mamma, menilai Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan gagal dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Masuk Bersama (SPMB) untuk calon siswa sekolah unggulan.
Hal ini disampaikan Salim Djati Mamma, usai meninjau langsung pelaksanaan SPMB 2025 tingkat SMA di UPT SMAN 5 Makassar, Jalan Taman Makam Pahlawan, pada Rabu (14/5/2025).

Bung Salim menegaskan bahwa kegagalan ini bukan yang pertama kali terjadi. Sejak Iqbal Najamuddin menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, pelaksanaan SPMB sudah kerap bermasalah. Ia menyoroti kendala teknis yang cukup signifikan pada hari pertama pelaksanaan, di mana jaringan server yang diklaim profesional justru mengalami gangguan. Akibatnya, sebagian peserta mengalami kesulitan login ke aplikasi dan sesi ujian pun tertunda.
“Saya minta Bapak Gubernur segera mencopot pejabat yang tidak becus, seperti Kepala Dinas Pendidikan. Sejak awal, pelaksanaan sudah keliru. Masa server langsung digunakan tanpa uji coba atau simulasi terlebih dahulu? Saya juga meminta Bapak Kapolda menelusuri anggarannya, apakah sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Periksa juga vendornya, karena diduga kontraktor yang digunakan adalah orang dekat Dinas Pendidikan,” tegas mantan Direktur Utama Harian Ujungpandang Ekspres itu.
Wartawan senior yang lama berkecimpung di bidang kriminal ini juga mempertanyakan pernyataan panitia yang menyebutkan bahwa peserta yang berhasil masuk sistem dipersilakan lanjut, sedangkan yang belum bisa login diminta bersabar. Ia menilai bahwa sistem server tidak mampu menampung beban secara simultan, sehingga peserta harus menunggu giliran.
“Ini mengindikasikan tidak adanya simulasi dari pihak vendor sebelum pelaksanaan. Saya menduga kuat ada kongkalikong antara panitia SPMB dan penyedia server untuk mengakali sistem tersebut,” imbuhnya.
Ia juga membandingkan sikap tegas pejabat lain. “Masa kakaknya Menteri Pertanian bisa mencopot stafnya, sedangkan Pak Gubernur tidak bisa? Ini bukan rekayasa, tapi soal kualitas sumber daya yang memang tidak mampu. Sudah tiga tahun menjabat, tapi kesalahannya selalu berulang,” ujar mantan Wakil Ketua PWI Sulsel Bidang Pembelaan Wartawan itu.
Bung Salim juga mempertanyakan validitas hasil seleksi, khususnya jalur prestasi, yang menjadi penentu utama bagi calon siswa sekolah berasrama dan sekolah unggulan.
Berdasarkan penelusuran tim investigasi, selain gangguan teknis, peserta dan orang tua calon siswa juga mengeluhkan perubahan jadwal tes secara mendadak tanpa pemberitahuan resmi.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap integritas dan profesionalitas pelaksanaan seleksi. Sejumlah pihak menyarankan agar Pemerintah Provinsi, khususnya Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan vendor aplikasi yang digunakan. (tim)





