Tahta Dolar Goyang, Sebanyak 1.700 Bank Dunia Pilih Yuan, Amerika Terpojok

INDONESIA, KORAN HARIAN 55 โ€” Dunia finansial berguncang. Lebih dari 1.700 bank di seluruh dunia resmi meninggalkan dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dan kini bertransaksi melalui Cross Border Interbank Payment System (CIPS) yang dikelola Beijing. Fakta ini bukan sekadar tren, melainkan lonceng kematian bagi monopoli dolar dalam perdagangan internasional yang sudah bercokol sejak Perang Dunia II.

Data The Economist mencatat, sepanjang 2024, CIPS memproses transaksi lintas batas senilai 175 triliun yuan bila dirupiahkan Rp402.325 triliun, melonjak 43% dibanding tahun sebelumnya. Jaringan CIPS kini merambah Turki, Mauritius, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Afrika dan Timur Tengah, membentuk blok finansial baru yang siap menantang hegemoni Washington.

โ€œYuan mencapai level tertinggi sejak Trump terpilih kembali. Investor asing dan banyak pemerintah kini mencari alternatif dolar,โ€ tulis The Economist, Selasa (16/9/2025).

Penelusuran tim redaksi menemukan, bahwa dolar AS sudah terjun bebas 7% sejak Januari 2025, ย mencatat ย awal tahun terburuk dalam lebih dari lima decade yakni sejak Tahun1073. Penyebabnya, adalah adanya kebijakan dagang Presiden Donald Trump yang tidak konsisten,

Selain itu, Tekanan politik terhadap Federal Reserve, yang memicu keraguan atas independensi bank sentral. Defisit fiskal AS yang melebar tanpa kendali

Berbeda dengan SWIFT yang 80% transaksinya berbasis dolar, CIPS memungkinkan penyelesaian langsung dalam yuan, menghapus peran greenback dalam rantai pembayaran internasional.

Han Kwee Juan, Head of Institutional Banking Group DBS, menegaskan kepada Reuters, โ€œSemakin banyak eksportir China berkata: saya menjual dalam RMB, Anda bayar dalam RMB. Tren ini tidak bisa dibalik.โ€

Di balik lonjakan penggunaan yuan, investigasi menemukan pola koordinasi global. Kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan), ditambah anggota baru seperti Arab Saudi dan Iran, secara sistematis, yang menantang Washington.

Mengakumulasi cadangan emas, Menguji pembayaran lintas negara dalam mata uang lokal, serta Membahas tatanan finansial baru yang mengabaikan obligasi Treasury AS.

Seorang analis geopolitik di Financial Times memperingatkan, jika tren ini tak terbendung, permintaan dolar akan longsor. AS menghadapi inflasi, kehilangan daya tawar geopolitik, dan risiko kepercayaan investor global terhadap Treasury.

China dan BRICS Mendapat lonjakan pengaruh ekonomi politik. Yuan sah sebagai pilar baru moneter global. Dimana Negara berkembang, akan lebih bebas berdagang tanpa tercekik biaya dolar. Sedangkan AS dan sekutu Barat, akan terancam kehilangan kendali pasar keuangan dunia. Obligasi Treasury bisa tak lagi jadi โ€œsafe havenโ€.

Data dari tim Investigasi, melihat adanya Gejolak di Pasar, dimana Singapura dan ย Hong Kong kini menjadi pusat transaksi yuan terbesar di luar China.

Diketahui UEA sudah menandatangani lebih dari 30 kontrak perdagangan energi berbasis yuan sejak awal 2025. Di Afrika, negara-negara pengekspor mineral kini memilih yuan demi menghindari volatilitas dolar.

Seorang bankir senior di Mauritius yang enggan disebut namanya berkata, Jika bergantung pada dolar kini dianggap risiko, bukan jaminan. Yuan memberi kepastian dagang yang lebih stabil.

Dari Fenomena ini, kini 1.700 bank global meninggalkan dolar bukan sekadar berita ekonomi. Ini adalah geopolitical earthquake, jika tanda lahirnya tatanan dunia multipolar, di mana Washington tak lagi memegang kendali penuh.

Sehingga menimbulkan pertanyaan, apakah dunia siap hidup tanpa dollar, atau AS akan nekat mengobarkan perang finansial demi mempertahankan tahtanya. Yang jelas, sejarah sedang ditulis ulang. Dan untuk pertama kalinya dalam 80 tahun, dolar tak lagi jadi satu-satunya raja di panggung global.(tim)