Diduga Abaikan Dampak Lingkungan, Pembangunan Ammar Nusantara Picu Banjir dan Lumpur di Saumata Indah

GOWA, koranharian55.com โ€“ Warga Perumahan Saumata Indah, khususnya di wilayah RT 003 RW 006, mengeluhkan memburuknya kondisi lingkungan mereka sejak dimulainya pembangunan proyek Perumahan Ammar Nusantara yang berada tepat di belakang permukiman. Setiap musim hujan, air berlumpur disebut rutin menggenangi rumah warga, memicu kerugian material sekaligus keresahan sosial.

Keluhan tersebut semakin menguat dalam beberapa pekan terakhir, seiring intensitas hujan yang tinggi. Warga menduga aktivitas penimbunan dan perubahan kontur lahan dalam proyek pembangunan menjadi faktor utama terganggunya sistem drainase alami di kawasan tersebut.

Salah satu warga terdampak, Andi Zulkarnain (32), mengungkapkan bahwa rumahnya kini kerap dimasuki air tanah berwarna kemerahan setiap kali hujan turun.

โ€œSetiap hari kami harus mendorong air keluar rumah. Airnya sangat kotor dan berwarna kemerahan. Kami menduga itu berasal dari timbunan tanah proyek di belakang,โ€ ujarnya, Selasa (24/02/2026).

Menurut Zul, sapaan akrabnya mengungkapkan, sebelum proyek pembangunan dimulai, rumahnya tidak pernah mengalami banjir ataupun rembesan air berlumpur. Namun sejak lahan di belakang permukiman diratakan dan ditimbun, genangan mulai terjadi, terutama saat hujan deras mengguyur lebih dari satu jam.

Air yang masuk bukan hanya menggenangi halaman, tetapi juga merembes melalui lantai dan dinding bagian belakang rumah. Warga terpaksa menggunakan pompa air dan peralatan seadanya untuk mencegah genangan semakin tinggi.

โ€œKami bukan hanya capek secara fisik, tapi juga khawatir dengan dampak jangka panjangnya. Dinding mulai lembab, lantai retak, dan perabot banyak yang rusak,โ€ tambahnya.

Sejumlah warga menilai pembangunan tersebut telah mengubah fungsi lahan yang sebelumnya merupakan area hijau dengan vegetasi cukup rimbun. Lahan itu selama ini berfungsi sebagai daerah resapan air sekaligus jalur alami aliran air hujan.

Kini, setelah dilakukan penimbunan dan pemadatan tanah untuk pembangunan perumahan baru, aliran air disebut tidak lagi memiliki jalur keluar yang memadai. Akibatnya, air berbalik mengarah ke permukiman warga yang berada pada posisi lebih rendah.

Beberapa warga juga menyebut tidak terlihat adanya saluran drainase permanen yang terhubung langsung ke sistem pembuangan air kawasan sekitar. Kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa sistem pengelolaan air hujan dalam proyek tersebut belum berjalan optimal.

Warga mengaku telah berupaya menyampaikan keberatan dan keluhan melalui jalur formal di lingkungan setempat. Teguran dan laporan telah disampaikan kepada Ketua RW hingga petugas keamanan lingkungan (Binmas).

Menurut Zul, pihak pengawas proyek sempat mendatangi warga untuk melakukan mediasi. Namun pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

โ€œPengawasnya sempat datang, tapi mereka berdalih bahwa aliran air berwarna merah itu bukan dampak dari pembangunan perumahan mereka,โ€ jelasnya.

Pernyataan tersebut, menurut warga, tidak disertai dengan kajian teknis atau solusi konkret untuk mengatasi genangan yang terjadi. Warga berharap ada audit lapangan atau kajian independen guna memastikan sumber persoalan secara objektif.

Selain kerusakan fisik pada bangunan, warga juga merasakan dampak psikologis akibat kondisi tersebut. Setiap hujan turun, sebagian warga mengaku merasa cemas dan siaga, khawatir air kembali masuk ke dalam rumah.

Kerugian material pun tidak sedikit. Perabot rumah tangga, karpet, serta perangkat elektronik berisiko rusak akibat terpapar air berlumpur. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dikhawatirkan memicu gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Warga berharap pihak pengembang dapat segera mengambil langkah tanggap darurat, seperti pembuatan saluran drainase sementara atau tanggul penahan air, sambil menunggu solusi permanen.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari manajemen Perumahan Ammar Nusantara terkait keluhan warga Perumahan Saumata Indah. Upaya konfirmasi yang dilakukan redaksi masih menunggu tanggapan.

Warga berharap ada keterlibatan pemerintah setempat untuk melakukan peninjauan langsung dan memastikan pembangunan tetap memperhatikan aspek lingkungan serta keselamatan masyarakat sekitar.

โ€œKami tidak menolak pembangunan. Kami hanya ingin hak kami sebagai warga yang sudah lebih dulu tinggal di sini dihormati. Jangan sampai kami yang harus menanggung dampaknya,โ€ tutup Zul.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa setiap proyek pembangunan perlu memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial secara menyeluruh, agar pertumbuhan kawasan tidak meninggalkan persoalan baru bagi masyarakat sekitar.(as/akc)