Jakarta, koranharian55.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang semakin kompleks, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menyampaikan pesan kuat kepada generasi muda Indonesia, bahwa jangan pernah takut berinovasi, berani mengambil risiko, dan bangun kepercayaan sebagai fondasi utama untuk meraih kesuksesan.

Pesan tersebut disampaikan JK saat menjadi pembicara dalam Amartha Asia Grassroots Forum yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dalam pemaparannya, JK menggambarkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi fase perubahan ekonomi yang tidak ringan. Perlambatan pertumbuhan ekonomi, ketegangan perdagangan global, hingga meningkatnya intervensi negara dalam berbagai sektor strategis menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh semua negara, termasuk Indonesia.
Menurutnya, dinamika tersebut merupakan bagian dari perubahan besar yang terjadi dalam siklus ekonomi dunia.
“Sekarang ekonomi di Indonesia dan di dunia ini menjadi ekonomi yang lebih banyak melibatkan peran negara. Orang menyarankan bahwa peran pemerintah lebih besar dibanding sebelumnya,” ujar JK.
JK menjelaskan bahwa tren global menunjukkan semakin kuatnya campur tangan pemerintah dalam aktivitas ekonomi. Fenomena ini terlihat dari kebijakan proteksi perdagangan yang diterapkan sejumlah negara besar demi melindungi industri dalam negeri mereka.
Ia mencontohkan kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap berbagai produk dari luar negeri. Sementara di Indonesia, pemerintah juga semakin aktif dalam mengelola sektor-sektor strategis seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).
Namun demikian, JK mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi sebuah bangsa tidak dapat sepenuhnya ditopang oleh pemerintah.
Menurutnya, roda ekonomi nasional sesungguhnya bergerak karena aktivitas para pelaku usaha yang menciptakan investasi, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan sektor produktif.
“Pemerintah hanya memberikan pekerjaan kepada sekitar empat juta orang. Yang memberikan lapangan kerja kepada hampir seluruh masyarakat justru para pengusaha yang membuat kegiatan ekonomi dan investasi,” tegasnya.
Dalam pandangannya, pembangunan ekonomi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara peran negara dan sektor swasta.
Jika negara terlalu dominan, ekonomi berpotensi bergerak menuju sistem yang terlalu sosialis. Sebaliknya, jika seluruh aktivitas diserahkan kepada mekanisme pasar, maka liberalisme ekonomi dapat berkembang tanpa kendali.
Karena itu, JK menilai pemerintah dan dunia usaha harus berjalan beriringan dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Negara membutuhkan pengusaha, dan pengusaha juga membutuhkan negara. Keduanya harus saling mendukung agar ekonomi tumbuh dan masyarakat memperoleh manfaat yang lebih luas,” ungkapnya.
Di hadapan para peserta forum yang mayoritas berasal dari kalangan anak muda, pelaku UMKM, dan pegiat ekonomi akar rumput, JK menyampaikan pesan yang paling banyak mendapat perhatian.
Ia menegaskan bahwa keterbatasan modal bukan alasan untuk mengubur mimpi menjadi pengusaha.
Menurut JK, modal terbesar seorang wirausahawan bukanlah uang, melainkan gagasan, kreativitas, dan inovasi.
“Kalau ingin berusaha, modal yang pertama adalah inovasi, kreativitas, dan ide. Itu yang nomor satu. Yang kedua baru modal,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa banyak perusahaan besar dunia maupun nasional lahir dari ide sederhana yang kemudian dikembangkan secara konsisten dan berani.
JK juga mengingatkan bahwa pemerintah saat ini telah menyediakan berbagai skema pembiayaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah untuk membantu pelaku usaha pemula dan UMKM berkembang.
Selain kreativitas, JK menekankan pentingnya penguasaan teknologi sebagai faktor penentu daya saing di masa depan.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI telah membuka peluang baru yang sangat besar bagi generasi muda Indonesia untuk menciptakan inovasi dan model bisnis yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terus bergantung pada kekayaan sumber daya alam semata.
Negara harus mulai membangun kekuatan baru berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
“Jangan hanya tergantung kepada sumber daya alam. Bagaimana kita membangun kemampuan teknologi sendiri. Dengan kemauan dan keberanian, itu bisa dilakukan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi relevan ketika banyak negara berlomba mengembangkan teknologi digital, kecerdasan buatan, energi baru terbarukan, hingga industri berbasis pengetahuan sebagai motor pertumbuhan ekonomi masa depan.
Menjelang akhir pidatonya, JK menyampaikan satu pesan yang menurutnya paling menentukan keberhasilan seorang pengusaha, yakni kepercayaan atau trust.
Menurut JK, dalam dunia bisnis, kepercayaan adalah modal yang nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan uang.
Tanpa integritas dan reputasi yang baik, seorang pelaku usaha akan sulit memperoleh dukungan dari masyarakat, investor, maupun lembaga keuangan.
“Seorang pengusaha modalnya adalah trust atau kepercayaan. Begitu Anda tidak punya kepercayaan, orang tidak akan percaya kepada Anda,” tegas JK.
Pernyataan tersebut disambut antusias peserta forum karena dianggap menjadi pengingat penting di tengah era digital yang menuntut transparansi dan akuntabilitas semakin tinggi.
Di tengah tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, JK optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk terus maju apabila generasi mudanya mampu memanfaatkan momentum perubahan.
Ia mengajak anak-anak muda Indonesia untuk terus meningkatkan kemampuan teknologi, memperkuat kreativitas, berani mengambil risiko, dan menjaga integritas dalam setiap langkah usaha yang dijalankan.
Bagi JK, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang dimiliki, tetapi oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu melahirkan inovasi dan menciptakan nilai tambah.
“Percaya diri, kemampuan inovasi, kemauan, dan keberanian menanggung risiko adalah hal yang dapat memajukan bangsa ini,” tutupnya.
Pesan Jusuf Kalla tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah perlambatan ekonomi global, masa depan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki modal besar, tetapi oleh mereka yang memiliki ide, keberanian, kemampuan beradaptasi, serta kepercayaan yang terjaga. Di era perubahan yang bergerak sangat cepat, kreativitas dan integritas menjadi investasi paling berharga bagi generasi penerus bangsa.(rls/rg)





