MAKASSAR, Koranharian55.com โ Konflik internal Partai Berkarya kini memasuki fase pecah total. Setelah puluhan DPW dan ratusan DPD menyatakan mosi tidak percaya kepada pengurus pusat, eks Ketua DPW Partai Berkarya Sulawesi Selatan, Kolonel Inf (Purn) TNI Andi Baso Mappasenreng SIP MM, secara resmi menyatakan bergabung dengan Partai Indonesia Raya (PARINDRA).
Langkah politik tokoh berpengaruh dari Sulawesi Selatan ini menegaskan bahwa krisis di tubuh Partai Berkarya bukan lagi isu internal, melainkan kegagalan kepemimpinan struktural yang memicu eksodus kader secara nasional.
โIni bukan keputusan emosional. Ini keputusan politik yang lahir dari proses panjang dan kekecewaan mendalam,โ ujar sumber internal kepada koranharian55.com.
Berdasarkan dokumen internal dan kesaksian sejumlah mantan pengurus pusat serta daerah, Partai Berkarya dinilai telah kehilangan ruh demokrasi organisasi. Sejumlah keputusan strategis DPP disebut diambil secara sepihak oleh lingkaran kecil elite pusat, tanpa mekanisme resmi dan tanpa melibatkan daerah.
Akibatnya, struktur daerah, termasuk Sulawesi Selatan, juga mengalami pembekuan de facto, SK kepengurusan tidak diterbitkan, agenda nasional tidak melibatkan DPW, serta komunikasi ke DPP terputus. Sehingga situasi inilah yang menjadi pemicu utama keputusan Kolonel (Purn) Andi Baso meninggalkan Partai Berkarya.
Ketika dihubungi via selularnya, Selasa (10/2/2026), Kolonel Inf (Purn) TNI Andi Baso, menegaskan Partai Berkarya, telah kehilangan arah, dan sudah tidak layak diikuti lagi.
Berikut kutipan wawancara dengan Kolonel Inf (Purn) TNI Andi Baso Mappasenreng.
Mengapa Anda memilih keluar dari Partai Berkarya dan bergabung ke PARINDRA?
โKarena saya tidak lagi melihat adanya ruang demokrasi dan penghormatan terhadap keputusan Munas. Partai ini sudah kehilangan arah dan komitmen terhadap kader di daerah.โ
Apakah ada upaya dialog sebelum keputusan ini diambil?
โAda. Kami mengirim mosi tidak percaya, kami minta forum klarifikasi nasional. Tapi semuanya dibiarkan. Ketika suara daerah tidak lagi didengar, maka bertahan justru mengkhianati prinsip.โ
Apa yang membuat Anda yakin dengan Partai Indonesia Raya?
โPARINDRA dibangun dari kesadaran kolektif, bukan kehendak elite. Ada disiplin, ada arah, dan ada kepemimpinan yang menghargai struktur. Itu yang hilang di Partai Berkarya.โ
Apakah langkah ini, akan diikuti kader lain di Sulsel?
โSaya tidak mengajak dengan paksaan. Tapi realitasnya, banyak pengurus DPD sudah satu sikap. Mereka hanya menunggu momentum.โ
Pesan terakhir untuk kader Berkarya yang masih bertahan?
โPolitik itu soal keberanian mengambil sikap. Jangan bertahan di kapal yang sudah bocor hanya karena nama besar.โ Tegas, pria yang akrab dipanggil Anbas.
Peta sebaran DPW dan DPD yang telah bergabung PARINDRA (Data Konsolidasi Internal, pada Februari 2026)
DPW telah bergabung dan menyatakan sikap, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, serta Bali.
(Catatan, mayoritas DPW ini merupakan struktur aktif dengan pengalaman Pemilu.)
DPW dalam proses konsolidasi, Aceh, Banten, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Maluku.
DPD (Kab/Kota) yang telah menyebrang
โข Sumatera: ยฑ120 DPD
โข Jawa: ยฑ95 DPD
โข Kalimantan: ยฑ60 DPD
โข Sulawesi: ยฑ70 DPD
โข BaliโNTBโNTT: ยฑ40 DPD
Total sementara, lebih dari 385 DPD menyatakan bergabung atau siap bergabung ke Partai Indonesia Raya.
Masuknya Kolonel Inf (Purn) TNI Andi Baso Mappasenreng menandai bahwa Partai Berkarya tidak lagi sekadar retak, tetapi pecah total.
Sementara itu, PARINDRA muncul bukan sebagai partai baru biasa, melainkan hasil konsolidasi kader berpengalaman yang siap bertarung secara nasional.
Jika tren ini berlanjut, peta politik nasional, khususnya ceruk nasionalis, maka akan mengalami pergeseran signifikan. (tim)





