Pancasila Menangis di Negerinya Sendiri?

Refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni

Oleh: Salim Djati Mamma, (Ketua Umum Perserikatan Journalist Siber Indonesia (PERJOSI)

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa ini kembali mengucapkan kata yang sama yaitu Pancasila.

Kata itu dikumandangkan di podium-podium pemerintahan, dipasang di baliho-baliho besar, dibacakan dalam upacara-upacara resmi, dan memenuhi linimasa media sosial.

Namun pertanyaan yang paling mendasar justru jarang terdengar, apakah Pancasila masih menjadi jiwa bangsa ini, atau hanya telah berubah menjadi simbol yang kehilangan rohnya?

Hari ini saya tidak ingin berbicara tentang seremoni. Saya ingin berbicara tentang kenyataan.
Tentang Indonesia yang diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan, tetapi kini menghadapi tantangan yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan.
Para pendiri bangsa melahirkan Pancasila bukan untuk menjadi hiasan dinding.

Mereka tidak merumuskan Pancasila agar sekadar dibacakan setiap tahun dalam upacara kenegaraan.

Mereka melahirkannya sebagai fondasi moral, kompas kebangsaan, dan perjanjian luhur untuk memastikan bahwa Indonesia berdiri di atas keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan kesejahteraan bersama.

Namun lihatlah keadaan di sekitar kita.
Ketika rakyat kecil harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara sebagian elite hidup dalam kemewahan yang sulit dibayangkan.

Ketika korupsi masih terus ditemukan meski pelakunya berkali-kali ditangkap.
Ketika kepercayaan publik terhadap berbagai institusi terus diuji.

Ketika perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan.
Ketika kekuasaan terkadang lebih nyaring terdengar daripada suara rakyat.

Maka pertanyaan tentang keberadaan Pancasila menjadi semakin relevan.
Bukan karena Pancasila gagal. Tetapi karena kita yang sering gagal menjalankannya.

Jika sila pertama benar-benar menjadi pegangan, seharusnya kejujuran menjadi karakter utama para pemegang amanah.

Jika sila kedua benar-benar hidup, tidak boleh ada rakyat yang diperlakukan tidak adil.

Jika sila ketiga benar-benar dijaga, perbedaan tidak akan menjadi alasan untuk saling membenci.

Jika sila keempat benar-benar dijalankan, kebijaksanaan akan lebih diutamakan daripada kepentingan sesaat.

Dan jika sila kelima benar-benar diwujudkan, keadilan sosial bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan kenyataan yang dirasakan seluruh rakyat Indonesia.

Hari ini saya membayangkan satu pertanyaan sederhana. Apa yang akan dikatakan para pahlawan jika mereka bisa melihat Indonesia saat ini?

Apa yang akan dikatakan para pejuang yang gugur di medan perang?
Apa yang akan dikatakan para tokoh bangsa yang rela dipenjara, diasingkan, dan kehilangan segalanya demi kemerdekaan?
Akankah mereka bangga?

Ataukah mereka akan bertanya mengapa bangsa yang mereka perjuangkan dengan pengorbanan luar biasa masih harus bergulat dengan persoalan-persoalan yang seharusnya sudah lama diselesaikan?

Sebagai Ketua Umum PERJOSI, saya percaya bahwa ancaman terbesar terhadap bangsa ini bukanlah datang dari luar negeri.

Bukan pula datang dari kekuatan asing.
Ancaman terbesar justru muncul ketika bangsa ini mulai kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai yang menjadi fondasi berdirinya negara.

Ketika ketidakadilan dianggap biasa.
Ketika kebohongan dianggap lumrah.
Ketika penyalahgunaan kekuasaan dianggap hal yang wajar.
Ketika kepentingan kelompok ditempatkan di atas kepentingan bangsa.
Di situlah sesungguhnya bahaya besar sedang mengintai.

Pancasila tidak pernah meminta untuk dipuja.
Pancasila meminta untuk dijalankan.
Pancasila tidak membutuhkan slogan.
Pancasila membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk berkata benar.
Keberanian untuk melawan ketidakadilan.
Keberanian untuk mengutamakan kepentingan rakyat.
Keberanian untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Sebagai insan pers, saya juga meyakini bahwa media memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengingatkan bangsa ini ketika arah perjalanan mulai menjauh dari cita-cita para pendiri negara.

Pers tidak boleh menjadi penonton.
Pers harus menjadi penjaga nurani publik.
Karena diam terhadap ketidakadilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap semangat perjuangan bangsa.

Hari Lahir Pancasila bukanlah perayaan tentang masa lalu.
Hari Lahir Pancasila adalah pengingat tentang tanggung jawab hari ini.
Tentang apakah kita masih setia pada janji kebangsaan yang diikrarkan puluhan tahun lalu.

Tentang apakah negara benar-benar hadir untuk seluruh rakyat.
Tentang apakah keadilan benar-benar berdiri tegak tanpa pandang bulu.
Dan tentang apakah Indonesia masih berjalan menuju cita-cita yang diperjuangkan para pendirinya.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat satu hal.
Bahwa bangsa ini tidak akan dinilai dari seberapa sering ia mengucapkan kata “Pancasila”.
Melainkan dari seberapa sungguh-sungguh ia menjalankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Selamat Hari Lahir Pancasila.

Bukan saatnya sekadar menghafal lima sila.
Sudah saatnya menghidupkan kembali maknanya.

Karena bangsa yang melupakan nilai-nilai dasarnya perlahan akan kehilangan arah.
Dan Indonesia yang kehilangan arah adalah sesuatu yang tidak pernah diimpikan oleh para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya demi merah putih.(*)