Takalar, koranharian55.com — Mahasiswa KKN Tematik Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar program “Suara Buku, Sejuta Cerita” melalui metode membaca nyaring (read aloud) di SDN No. 110 Inpres Mattompodalle, Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 hingga 10.35 WITA tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat KKN Tematik Literasi Unhas yang berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Program tersebut diarahkan untuk menumbuhkan minat baca, meningkatkan pemahaman terhadap bacaan, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dan berpikir kritis anak sejak dini.
Program “Suara Buku, Sejuta Cerita” berada di bawah tanggung jawab Sitti Mut Mainnah, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin, dengan pendampingan Dosen Pendamping KKN (DPK) Saharuddin, SIP, MSi.
Dalam pelaksanaannya, metode membaca nyaring dikemas secara interaktif. Peserta didik tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga dilibatkan dalam berbagai aktivitas selama proses membaca.
Mahasiswa mengajak siswa mengamati gambar dalam buku, mengenali judul dan tokoh cerita, memprediksi alur, menyimak isi bacaan, serta menjawab pertanyaan yang diberikan. Siswa juga diberi kesempatan untuk menceritakan kembali pemahaman mereka terhadap cerita yang telah dibacakan.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan pengalaman membaca yang melibatkan siswa secara aktif. Kegiatan tidak berhenti pada kemampuan mendengarkan, tetapi juga mendorong anak memahami isi cerita dan menyampaikan kembali informasi yang diperolehnya.

Selain melibatkan peserta didik, program tersebut turut memberikan perhatian kepada wali murid. Mahasiswa memperkenalkan teknik dasar membaca nyaring yang dapat diterapkan orang tua ketika mendampingi anak membaca di rumah.
Teknik yang diperkenalkan antara lain penggunaan intonasi dan ekspresi yang sesuai, pengaturan jeda saat membaca, serta membuka ruang diskusi sederhana mengenai isi cerita. Orang tua juga didorong untuk memberikan kesempatan kepada anak menceritakan kembali isi bacaan dengan pemahaman mereka sendiri.
Pelibatan wali murid menjadi bagian dari upaya memperluas praktik literasi dari lingkungan sekolah ke lingkungan keluarga. Dengan demikian, aktivitas membaca dapat dilakukan tidak hanya ketika anak berada di sekolah, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari bersama keluarga.
Selama kegiatan berlangsung, peserta didik dan wali murid mengikuti rangkaian program dengan antusias. Materi mengenai teknik membaca nyaring juga ditransfer kepada orang tua dan tenaga pendidik agar metode tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan setelah program KKN selesai.
Kegiatan “Suara Buku, Sejuta Cerita” merupakan bagian dari KKN Tematik Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin yang mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan budaya literasi. Program tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi pengabdian masyarakat dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 mengenai pendidikan bermutu.
Melalui kegiatan tersebut, praktik membaca nyaring diharapkan dapat terus diterapkan secara mandiri di lingkungan sekolah dan keluarga, sehingga aktivitas membaca menjadi bagian dari kebiasaan literasi anak secara berkelanjutan, termasuk setelah berakhirnya masa KKN.(nda)





